MANFAATKAN KESEMPATAN UNTUK BERTOBAT

sekarang saya ingin mengulas tentang bagaimana kesempatan kita untuk bertobat di dunia yang banyak sekali bencana.

Seberapa Besar Dosa Kita?
# manusia terlahir ke dunua dikarenakan membawa hutang karma. Jika tidak ada hutang karma tidak akan terlahir kembali kedunia sebagai manusia selama 60.000 tahun. berarti kita sudah berada di dunia selama 60.000 tahun sebagai manusia dengan wajah,tabiat,sifat,status yang berbeda-beda, hanya saja kita tidak pernah ingat siapa kita dulunya.#

Sudah seharusnya kita menggunakan badan yang palsu ini unutk membuat kebaikan,agar kita kembali ke Nirwana "nantinya".HATI  menentukan apapun yang terjadi pada diri kita.

Untuk menjadi Buddha kita harus mempunyai HATI yang baik. 
Dharma Sejati yang kita dapat untuk menjalani hidup ini harus belajar dari HATI.
Rejeki yang kita cari atau yang kita dapat berasal dari HATI
Kebajikan kita harus dipupuk dari HATI
Jasa Pahala harus dijalankan dari HATI
Bencana yang terjadi pada diri kita juga dari HATI 
(contoh: apabila kita suka membicarakan keburukan orang lain yang belum tentu benar pasti akan berakibat buruk pada kita sendiri)

INGIN PULANG KE SURGA (NIRWANA)?
Harus belajar TAO LI (kebenaran sejati) di dunia. Di dunia kita berbuat apa ataupun menjadi apa maka kedepannya, menjadi seperti itu pulalah kita.

7an Pertobatan:
1) Mengikis kekotoran batin
2) membina diri
3) Mujijat terjadi karena ada perbuatan baik

kita dapat melakukan pertobatan dengan baik dengan hati bening,intopeksi,pemahaman pada kebenaran.
Cara membina diri ( Pesan CHANG SEN TA TI):
"menjalankan pembinaan diri mengandalkan hati yang semula (polos seperti bayi yang baru lahir, tanpa ada kekotoran hati), hati yang semangat. Pertahankan hati yang demikian menjalani perjalanan di dalam membina
 diri"

demikian posting yang saya ulas setelah saya mendapatkan dari senior saya. semoga bermanfaat bagi semua orang. apabila ada tulisan saya yang tidak berkenan di hati,sebelumnya saya minta maaf


LIFE IS SHORT
PRAY HARD !

Cara Mematahkan/Menghancurkan Kerisauan Diri

Begitu banyak manusia di dunia ini. meskipun kita pernah bertemu seseorang yang wajahnya sama dengan kita,yang pasti watak pasti berbeda. pernah nih saya sekolah di bali,saya ketemu dengan perempuan yang wajahnya sama dengan saya,namanya aja hampir sama.cuma nama dia sama dengan nama belakang saya.banyak juga orang yang pacaran selalu merayu mengatakan kamu cantik. jangankan orang pacaran,seringkali kita bertemu dengan orang di jalan kita dapat menilainya, cantik atao jelek.
nah....saya akan membahas hal ini.
Sebagai manusia,sebaiknya kita jangan menilai seseorang dari luarnya. Jadi kita harus mengenal,menganalisa,mencari kebenaran hati. Jangan terpengaruh pada yang kita lihat atau yang kita dengar. apabila kita terpengaruh maka akan muncul ke-egois-an dan kemelakatan pada duniawi. emang sih kita hidup d dunia dan di dunia sada banyak barang2 duniawi yang memikat panca indera kita tapi kita juga tidak boleh lupa bahwa kita hidup di dunia ini mempunyai misi yang harus di laporkan ke"ATAS". 
Semua orang pasti mempunyai permasalah yang berbeda. dari yang ringan sampai terberat. Apabila ada masalah,pasti ada penyelesaian,hanya menunggu waktu saja. Sebenarnya persoalan / permasalah hanyalah permasalahan saja (jangan di anggap rumit,ntar malah muncul penyakit,tambah lagi deh masalahnya...)
Permasalahan muncul maka Kearifan kita akan bertambah apabila kita dapat menyelesaikan dengan kebenaran.
Dalam membina diri,kita mendapat persoalan tidak lepas dari karma yang kita tanam.
Kerisauan pikiran,biarkan saja dengan hati yang tenang maka kerisauan akan hilang dengan sendiri.Begitu ada kerisauan jangan dijadikan sebagai persoalan/kesulitan
Cara mematahkan kerisauan diri yaitu dengan Intropeksi diri, Jangan menyalahkan orang lain, dan Jangan mengeluh (selalulah bersyukur apapun yang kita dapat). oiya, ada satu lagi yang penting. selalulah TERSENYUM! mengapa? karena apabila kita bertemu dengan orang lain dengan tersesenyum dan menyapa dengan ramah maka kita membagi kebahagian kepada orang itu dan pancaran kebahagian itu akan kembali kepada kita. Jadi kita menjalani hidup ini dengan bahagia setiap harinya.

Semua ini saya dapatkan dari Pandita saya. saya berpikir bahwa apa yang di bicarakan oleh Pandita saya adalah benar semua,oleh karena itu saya ingin membagi kebenaran dan kebahagian ini pada kalian semua
SEMOGA BERMANFAAT BAGI YANG MEMBACA. Apabila ada kesalahan dan ada yang tidak berkenan di hati kalian, saya minta maaf......

BE VEGETARIAN!





Add caption
Ghiboo.com - Tak ada salahnya kini Anda mulai menjadi vegetarian. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal Nutrition menunjukkan bahwa mengonsumsi diet vegetarian bisa membuat Anda lebih bahagia dan mengurangi stres.

Makanan seperti ikan dan daging ternyata mengandung arachidonic acid (AA), sejenis omega-6. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa menyantap makanan yang mengandung AA tingkat tinggi dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang mengganggu kinerja otak.

Secara teori, mengonsumsi ikan amat baik karena mengandung omega-3 fatty acids, seperti eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA). Bahkan EPA dan DHA dapat melawan dampak negatif dari AA. Peneliti juga sudah mengungkapkan bahwa mengonsumsi makanan mengandung omega-3 fatty acids berkaitan dengan peningkatan kesehatan otak, suasana hati yang lebih baik dan sebagainya.

 

Namun baru-baru ini, sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang menyantap makanan serba daging dan ikan dilaporkan mengalami perubahan suasana hati lebih buruk dibandingkan seorang vegetarian, meskipun asupan DHA dan EPA-nya tinggi.

 

Dalam sebuah penelitian lanjutan, peneliti mengamati 39 orang pemakan daging dan dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama diminta untuk makan daging, ikan dan telur unggas setiap hari. Kelompok kedua disuruh makan ikan saja 3-4 kali setiap minggu, sementara kelompok ketiga makan serba sayuran.

Setelah dua minggu, peneliti menemukan adanya perubahan skor suasana hati pada kelompok pemakan ikan dan daging. Namun, kelompok vegetarian justru memiliki suasana hati yang secara signifikan lebih baik dan lebih sedikit stres.

Peneliti juga menemukan pada kelompok pemakan ikan, jumlah EPA dan DHA mereka mengalami peningkatan hingga 95-100 persen, dan sayangnya tidak mampu melawan stres dan perubahan suasana hati, dibandingkan pada kelompok vegetarian.


source: Yahoo.com 

BACA JUGA:

Plus minusnya jadi vegetarian
Jamur, pengganti protein hewani bagi vegetarian
Amankah jadikan si kecil vegetarian?
Positifnya sayuran dan negatifnya daging

PERSON WHOSE NOT BELIEVE IN GOD!

VIVAnews - Teori fisikawan terkemuka, Stephen Hawking, bahwa Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan penciptaan alam semesta telah mengundang reaksi keras dari kaum rohaniwan di Inggris. Menurut mereka, teori Hawking itu tidak bisa diterima sebagai kebenaran apalagi sampai mengusik keimanan orang lain.
Kepala Gereja Kristen Anglikan, Rowan Williams, tidak bisa menerima argumen Hawking bahwa alam semesta bisa tercipta tanpa campur tangan Tuhan. Menurut Williams, manusia sejak dahulu percaya bahwa Tuhan menciptakan semesta.
"Percaya kepada Tuhan bukan sekadar mengisi kekosongan dalam menjelaskan bagaimana suatu hal terkait dengan hal lain di dalam alam semesta," kata Williams dalam majalah "Eureka" terbitan harian The Times.
"Kepercayaan itulah yang menjelaskan bahwa ada suatu unsur yang pintar dan hidup dimana segala sesuatu pada akhirnya bergantung pada keberadaannya," lanjut Williams yang komentarnya juga dikutip laman harian The Telegraph, Jumat 3 September 2010. 
"Ilmu fisika dengan sendirinya tidak akan menjawab pertanyaan mengapa ada ketimbang tiada," lanjut Williams. Dia mengritik pernyataan Hawking bahwa,"Karena ada hukum seperti gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta sendiri."
Williams pun tidak habis pikir dengan pernyataan ilmuwan berusia 68 tahun itu bahwa "Kreasi yang spontan merupakan alasan mengapa ada ketimbang tiada, mengapa alam semesta ada, mengapa kita ada."
Selain Williams, kritik juga muncul dari pemuka agama lain, seperti Pemimpin Gereja Katolik Roma di Inggris, Lord Sacks, dan Ibrahim Mogra, Ketua Dewan Muslim Inggris. Kepada The Times, Lord Sacks menilai bahwa ilmu pengetahuan merupakan suatu penjelasan, sedangkan agama adalah menyangkut tafsiran. 

Melalui buku barunya yang akan terbit 9 September mendatang, "The Grand Design," Hawking mementahkan keyakinan Isaac Newton - dan juga pandangan Hawking sendiri - bahwa jagat raya termasuk Bumi terbentuk akibat campur tangan ilahi.
Dalam ringkasan buku yang pertama kali diterbitkan harian Inggris, The Times, Hawking menantang teori Newton bahwa alam semesta pastinya didesain oleh Tuhan karena tidak mungkin muncul dari fenomena chaos. Buku terbaru itu ditulis Hawking bersama fisikawan Amerika, Leonard Mlodinow.
Bukan kali ini saja Hawking mengesampingkan konsep Tuhan dalam mengemukakan teorinya. Dalam wawancara dengan stasiun televisi Inggris, Channel 4, Juni lalu, Hawking mengaku tidak percaya bahwa ada Tuhan secara "personal."
"Pertanyaannya adalah, apakah demikian caranya alam semesta mulai dipilih oleh Tuhan bagi alasan-alasan yang kita tidak bisa pahami, atau apakah itu ditentukan oleh suatu dalil ilmiah?" Saya percaya yang kedua," kata Hawking saat itu dalam program acara "Genius of Britain."
"Bila kalian mau, kalian bisa menyebut dalil-dalil ilmiah itu 'Tuhan.' Namun bukan seperti suatu Tuhan yang personal yang bisa kalian temui dan kalian tanya," lanjut Hawking.

ITULAH ARGUMEN DARI HAWKING. PERNYATAAN YANG TIDAK MENDASAR!


SUMBER: YAHOO.COM

Kwan Im Live

Guan Yin (in Chinese: 觀音, pinyin guānyīn)

full name: 觀世音 Guan Shi Yin

in Thai: กวนอิม)
Chinese Bodhisattva/ Goddess of Compassion, Mercy and Kindness

considered to be a mother-goddess and patron of seamen.
 



NAME
The name Guan Yim also spelt Guan Yin, Kuan Yim, Kwan Im,
(meaning "Observing the Sounds (or Cries) of the (human) World".)
Highly respected in Asian cultures, Guan Yim bears different names as follows:
Hong Kong: Kwun Yum
Japan: Kannon or more formally Kanzeon; the spelling Kwannon, 
(based on a pre-modern pronunciation, is sometimes seen)
Korea: Gwan-eum or Gwanse-eum
Thailand: Kuan Eim (กวนอิม) or Prah Mae Kuan Eim
Vietnam: Quan Âm




In Chinese Buddhism, Guan Yim/ Guan Yin/Kuan Yim/ Kuan Yin 
is synonymous with the Bodhisattva Avalokitesvara, the pinnacle of mercy, compassion, kindness and love.
(Bodhisattva- being of bodhi or enlightenment, 
one who has earned to leave the world of suffering and is destined to become a buddha,but has forgone the bliss of nirvana with a vow to save all children of god.
Avalojkitesvara: The word ‘avalokita’ means "seeing or gazing down" and ‘Êvara’ means "lord" in Sanskrit).


Among the Chinese, Avalokitesvara is almost exclusively called Guan Shi Yin Pu Sa. 
The Chinese translation of many Buddhist sutras has in fact replaced the Chinese transliteration of Avalokitesvara with Guan Shi Yin.
Some Taoist scriptures give her the title of Guan Yin Da Shi, and sometimes informally as Guan Yin Fo Zu.
ORIGIN
Along with Buddhism, Guan Yim's veneration was introduced into China as early as the 1st century AD,
and reached Japan by way of Korea soon after Buddhism was first introduced into the country from the mid-7th century.
Representations of the bodhisattva in China prior to the Song Dynasty (960-1279 AD, Northern - and Southern Song Dynasty) 
were masculine in appearance.
It is generally accepted that Guan Yim originated as the Sanskrit Avalokitesvara, which is her male form, 
since all representations of Bodhisattva were masculine.
Later images might show female and male attributes, since a Bodhisattva, in accordance with the Lotus Sutra, 
has the magical power to transform the body in any form required to relieve suffering, so that Guan Yim is neither woman nor man. 
In Mahayana Buddhism, to which Chinese Buddhism belongs, gender is no obstacle to Enlightenment.
As the Lotus Sutra relates, the bodhisattva Kuan Shih Yin, "by resort to a variety of shapes, travels in the world, 
conveying the beings to salvation."
The representation in China was further interpreted in an all-female form around the 12th century, during the Ming Dynasty (1368- 1644 AD).
The twelfth-century legend of the Buddhist saint Miao Shan (see below), the Chinese princess who lived in about 700 B.C., is widely believed to have been Kuan Yin, reinforced the image of the bodhisattva as a female.
In the modern period, Guan Yim is most often represented as a beautiful, white-robed woman, a depiction which derives from the earlier Pandaravasini form.